Balikpapan – Minimnya minat mahasiswa terhadap jurusan keguruan menjadi perhatian DPRD Balikpapan di tengah masih terbatasnya jumlah tenaga pengajar, khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kondisi ini dinilai berpotensi berdampak pada kualitas pendidikan jika tidak segera diantisipasi.
Persoalan tersebut mengemuka setelah adanya diskusi antara DPRD dengan mahasiswa dari organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) jurusan pendidikan. Dalam forum tersebut terungkap bahwa minat generasi muda untuk menjadi guru cenderung menurun.
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Hj. Iim, menyampaikan bahwa banyak mahasiswa saat ini lebih tertarik pada jurusan yang dianggap memiliki prospek penghasilan lebih besar. Hal ini membuat jurusan keguruan kurang diminati.
“Banyak mahasiswa lebih memilih jurusan lain yang dianggap memiliki prospek penghasilan lebih besar, sehingga minat ke jurusan keguruan relatif rendah,” ujar Iim setelah RDP Pansus LKPJ di Kantor DPRD Balikpapan pada Senin, (10/6/2026).
Ia menjelaskan, persepsi mengenai rendahnya kesejahteraan guru menjadi faktor dominan yang memengaruhi pilihan mahasiswa. Profesi guru seringkali dipandang kurang menjanjikan secara ekonomi dibandingkan bidang lain.
Meski demikian, pada beberapa jalur pendidikan seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan program melalui Universitas Terbuka, jumlah peminat masih relatif stabil. Namun untuk jalur pendidikan non-UT, minat calon mahasiswa dinilai masih rendah.
“Keputusan menjadi guru tidak bisa dipaksakan, melainkan perlu didorong melalui pemahaman yang lebih luas tentang nilai dan peran strategis profesi tersebut, “tambahnya.
Ia menilai penting adanya upaya sosialisasi agar generasi muda melihat profesi guru tidak semata dari sisi finansial dan juga menekankan bahwa profesi guru memiliki nilai pengabdian yang tinggi. Dalam pandangannya, profesi ini bahkan kerap disebut sebagai “profesi para nabi”, sehingga memiliki dimensi moral dan sosial yang kuat.
Namun demikian, Iim menegaskan pemerintah tetap perlu meningkatkan perhatian terhadap kesejahteraan guru. Ia mencontohkan negara seperti Singapura yang memberikan penghargaan tinggi terhadap profesi guru, termasuk dari sisi ekonomi.
Kondisi kesejahteraan guru, terutama di tingkat PAUD dan taman kanak-kanak (TK) swasta, juga menjadi sorotan. Banyak tenaga pendidik di sektor tersebut masih menghadapi keterbatasan pendapatan, padahal perannya sangat penting dalam membentuk dasar pendidikan anak.
Ia menilai berbagai program bantuan dari pemerintah, seperti pemberian insentif dan kemudahan melanjutkan pendidikan, sudah berjalan, namun belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan para guru.
Ke depan, DPRD berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap profesi guru, baik melalui peningkatan kesejahteraan maupun penghargaan yang layak. Upaya ini dinilai penting untuk menarik kembali minat generasi muda sekaligus memastikan ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas di masa mendatang. (IM/ADV)
![]()









