Kutai Timur – Sebanyak 19 atlet muda panjat tebing Kutai Timur dilepas Bupati Ardiansyah Sulaiman untuk berlaga di Kejurprov Kaltim 2025, Senin (5/5/2025). Pelepasan yang berlangsung di halaman Kantor Bupati ini menjadi momentum membanggakan sekaligus penanda bahwa regenerasi atlet Kutim berjalan.
Namun, prestasi masa depan tak cukup hanya digantungkan pada semangat—dibutuhkan ekosistem yang kokoh dan berkelanjutan.
FPTI Kutim, di bawah kepemimpinan Aji Fahriza Hakim, mengirim atlet untuk tiga nomor utama: Speed, Lead, dan Bolder. Para atlet ini berusia 7–18 tahun dan telah menjalani latihan intensif sejak setahun terakhir.
Namun di balik pencapaian itu, masih ada pekerjaan rumah besar: bagaimana menciptakan sistem pembinaan yang tidak hanya mengandalkan pelatih dan semangat, tapi juga dibalut inovasi, teknologi, dan dukungan kelembagaan.
“Anak-anak ini dilatih setiap hari 1–2 jam. Tidak ada libur. Ini bukan semata pembentukan fisik, tapi mental bertanding mereka juga dibentuk sejak dini,” ujar Aji.
Satu sorotan penting muncul dari aspek infrastruktur. Sarana panjat tebing di Bukit Pelangi yang digunakan selama ini sudah digunakan sejak awal 2000-an.
Meski strategis karena berada di kawasan pemerintahan, fasilitas ini dinilai sudah perlu peremajaan—bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi demi keselamatan dan standardisasi kompetisi.
Anggota FPTI, Fitriyadi, mengusulkan perlunya revitalisasi menyeluruh. “Kalau bisa, Kutim memiliki wall panjat bertaraf nasional atau bahkan internasional. Bisa sekaligus jadi destinasi sport tourism dan tempat pelatihan atlet daerah lain,” katanya.
Inovasi bukan sebatas infrastruktur. Pembinaan atlet muda bisa ditingkatkan lewat kerja sama lintas sektor: integrasi dengan kurikulum sekolah, penggunaan teknologi pelatihan seperti motion capture, bahkan kolaborasi dengan psikolog olahraga untuk memperkuat mental atlet.
Dalam jangka panjang, FPTI Kutim juga dapat menjajaki program talent scouting berbasis digital, serta menggandeng pelaku industri lokal dalam bentuk sponsorship atau beasiswa atlet. Selain mencetak juara, hal ini juga membuka jalan bagi karier profesional atlet ke tingkat nasional.
Kejurprov Kaltim 2025 yang digelar 7–13 Mei nanti bukan semata ajang kompetisi, tapi bisa menjadi titik awal pembangunan sistem olahraga panjat tebing yang lebih visioner. Dengan strategi dan inovasi yang tepat, panjat tebing Kutim bukan hanya bisa mempertahankan gelar juara umum seperti di Porprov 2022, tapi juga menjelma sebagai pusat pembinaan atlet panjat tebing muda di Indonesia Timur.
Pelepasan bukan akhir, tapi titik tolak untuk melompat lebih tinggi. Prestasi besar lahir dari sistem yang cerdas dan kolaboratif. (SH)
![]()









