AdvetorialBalikpapanDPRD Balikpapan

Kemarau Panjang Ancam Pasokan Air Balikpapan, Warga Diminta Waspada

Balikpapan – Ancaman berkurangnya ketersediaan air baku mulai menjadi perhatian di Kota Balikpapan seiring memasuki periode kemarau dengan curah hujan yang semakin rendah. Kondisi ini dinilai perlu diantisipasi agar pasokan air bersih bagi masyarakat tetap terjaga.

Ketua Komisi II DPRD Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, mengatakan kondisi kemarau yang terjadi saat ini sebenarnya telah diperkirakan sejak jauh hari. Sejumlah indikator cuaca, termasuk fenomena El Nino, telah menjadi gambaran bahwa penurunan curah hujan perlu diantisipasi.

Menurut Fauzi, perbedaan kondisi cuaca antara Juli dan Agustus mulai terlihat. Jika pada Juli masih terdapat hujan, memasuki Agustus intensitas hujan semakin berkurang. Situasi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap ketersediaan air baku dan pada akhirnya memengaruhi pelayanan air bersih.

“Kalau pada Juli masih terdapat hujan, memasuki Agustus curah hujan mulai berkurang dan belum turun hujan secara signifikan. Kondisi tersebut tentu dapat berdampak terhadap ketersediaan air baku yang nantinya berpengaruh pada suplai air bersih kepada masyarakat,” ujarnya saat ditemui di ruang Komisi II Kantor DPRD Balikpapan, Rabu (19/8/2026).

Karena itu, pemantauan kondisi air baku terus dilakukan bersama pihak terkait. Fauzi menyebut Komisi II juga mendorong koordinasi dengan Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan di tengah kondisi cuaca yang cukup ekstrem.

Ia juga mengajak masyarakat ikut mengambil peran dengan menggunakan air secara bijak. Menurutnya, menjaga ketersediaan air tidak hanya menjadi tugas pemerintah maupun pengelola layanan, tetapi membutuhkan kesadaran masyarakat dalam mengatur penggunaan air sehari-hari.

“Kami berharap masyarakat sama-sama memahami kondisi ini. Komisi II juga terus berkolaborasi dengan PDAM untuk memberikan pelayanan terbaik,” katanya.

Selain ancaman terhadap ketersediaan air baku, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fauzi meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran, termasuk membakar sampah, membuka lahan, maupun membersihkan kebun dengan cara dibakar.

Menurutnya, sampah rumah tangga maupun sampah dari aktivitas berkebun sebenarnya dapat dikelola tanpa harus dibakar. Sampah organik seperti daun dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, sementara sampah plastik yang masih bernilai dapat dipilah untuk kemudian didaur ulang.

“Apapun jenis sampahnya, sebaiknya tidak dibakar. Kalau memang ada sampah, sebaiknya dikumpulkan dan dipilah. Sampah yang masih bisa didaur ulang dapat dimanfaatkan kembali, sementara sampah organik seperti daun dapat diolah menjadi kompos,” tuturnya.

Fauzi menilai kewaspadaan masyarakat menjadi semakin penting selama kondisi lahan kering. Pengelolaan sampah dengan cara yang aman bukan hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat menekan potensi munculnya api yang sulit dikendalikan saat kemarau.

Dengan memperkuat koordinasi antara pemerintah, PTMB, dan masyarakat, Komisi II berharap Balikpapan dapat menghadapi periode kemarau tanpa mengganggu keberlangsungan pelayanan air bersih sekaligus mengantisipasi potensi karhutla di wilayah kota.(IM/ADV)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!